Estro’s Weblog

memberi pencerahan baru

artikel

Ulama, Bagai Buah Simalakama

Oleh: Teguh ‘abu qalam’

kata ulama merupakan bentukan jamak dari kata ‘alim. ‘Alim memiliki makna orang yang berilmu sebagai bentuk isim fa’il dari kata ‘alima. Sehingga jika diartikan secara bahasa ulama berarti orang yang memiliki banyak ilmu. Bukan hanya ilmu agama tapi juga ilmu-ilmu lainnya. Sehingga secara istilah ulama adalah orang yang menguasai ilmu tertentu secara rinci dan mendalam. Maka sah-sah saja ketika para ilmuwan, cendekia dan pembelajar-pembelajar lainnya dimaknai sebagai ulama di bidangnya. Namun sayangnya sejak terjadi revolusi agama oleh imam al-Ghazali nampaknya makna ulama kian menyempit (peyoratif). Sekarang ulama hanya dimaknai dengan seseorang yang memahami ilmu agama secara mendalam hingga mengajarkannya kepada murid-muridnya (santri, pen)

Indonesia sebagai negara demokrasi tentunya memberikan kebebasan beragama. Termasuk kebebasan bagi para ulama dalam menyampaikan ilmunya. Namun disisi lain terdapat istilah umara’ (penguasa). Atau di Indonesia sendiri sering dimaknai sebagai pemerintah. Dalam kehidupan berbangsa antara ulama dan umara memiliki kekuasaan yang berbeda-beda. Umara merupakan pemerintah yang berhak dan berkewajiban memimpin bangsa ini secara struktural kenegaraan. Sedangkan ulama bisa dikatakan sebagai ‘penguasa bayangan’. Ada ranah-ranah tertentu yang hahya bisa tersentuh oleh kewibawaan dan hikmah yang dimiliki oleh ulama. Sehingga kerukunan antara ulama dan umara merupakan karunia terbesar untuk mempersatukan negeri tercinta. Namun sayang realita berbicara lain. terkadang Umara mengekang eksistensi ulama (masa orde baru) dan sebaliknya ulama menghujat kelemahan-kelemahan umara. Hingga memunculkan kepanikan.

Rasa panik, ketakutan, bingung sangat dirasakan terutama oleh masyarakat. Mereka bingung melihat pemimpinnya (ulama dan umara) saling menjatuhkan. Bahkan tidak asing lagi ketika ulama akhirnya terjun ke dunia tarik-ulur kekuasaan (politik, pen). Di mata masyarakat seorang ulama adalah simbol kesederhanaan, kejujuran, dan kebijaksanaan. Maka, jika ulama telah bermain politik nilai-nilai indah tersebut dengan sendirinya akan menipis. Karena di dunia politik sangat jauh dari kesederhanaan, melainkan kemewahan. Begitupun dengan nilai kejujuran dan kebijaksanaan, sulit mencarinya di dunia politik. Kepalsuan dan kesewenangan telah lama menghiasi kehidupan politik di Indonesia. Maka dari itu yang kita harapkan adalah seorang ulama yang memiliki sifat umara’ tanpa harus menjadi penguasa negara. Maksudnya ulama yang mampu memimpin umatnya dengan bijak. Begitupun dengan pemerintah. Bangsa ini menunggu-nunggu umara (pemerintah) yang meng-ulama. Sehingga walau hidup dalam sistem yang penuh dengan godaan harta, maka jiwa zuhud-nya tetap menonjol.

No comments yet.

Leave a comment